Me and daughter

Akrab bersama Silda

2nd Anniversary STUCK

Let's go to #BribikComedy

Wednesday, April 16, 2008

FAMILY

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur


Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru.
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu,
dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu." Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak,
bangun," kataku.
"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum,
" Aku menemukannya jatuh dari pohon. "
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." Si kecilku berkata, "Oh,
Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.
"Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku
benar-benar menyukai bunga-bunga ini,apalagi yang biru."

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
(F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Forwarded Message


Sunday, March 30, 2008

JENDRAL SUDIRMAN


Beberapa hari yang lalu, orang tuaku mudik ke kampoeng halaman di Bondowoso menjenguk bude yang sakit keras dan akhirnya meninggal dunia dengan tenang. Inna lillaahi wa inna ilahi roji’uun.

Seperti biasa saat sampai di rumah sudah ada oleh-oleh di tangannya. Tape singkong Bondowoso yang terkenal itu. Ingat, dibaca seperti apa adanya bukan seperti kita membaca tape recorder. Rasanya oke punya. Seperti biasa pula tape kumakan bersama dengan temanku. Gak enak makan sendirian. Dan seperti biasa lagi, Di bungkus tape itu tertulis label merek toko penjualnya yang beralamat di Jalan P.B SUDIRMAN.

Saat temanku membaca tulisan di label merknya ia berkomentar singkat, di Bali juga ada jalan P.B Sudirman. Di tempat lain biasanya disebut jalan Sudirman saja nggak perlu pakai P.B alias Panglima Besar. Ternyata tidak hanya Bali yang menggunakan jalan P.B Sudirman. Aku sendiri tidak tahu dimana persisnya jalan P.B Sudirman di Bali, maklum baru sekali kesana.

Kalau dipikir-pikir, selama ini yang disebut sebagai Panglima Besar di negeri ini ya hanya Jenderal Sudirman itu. Seorang Jenderal berbintang lima yang sangat dihormati oleh siapapun di negeri ini.



Ngomong-ngomong soal Jenderal berbintang lima, ternyata ada dua orang yang memiliki pangkat yang sama dengan pak Dirman yaitu Jenderal Besar A.H Nasution dan Jenderal Besar Soeharto. Tapi amit-amit deh kalo yang disebut terakhir ini jangan sampai dijadikan nama jalan di daerah manapun di negeri ini. Manusia kejam itu tidak layak mendapatkan penghormatan seperti itu. Ntar diplesetkan lagi nama jalannya menjadi JALAN MBAH KORUPSI jadi repot deh.

Kembali lagi ke Panglima Besar kita, ternyata beliau adalah seorang Sosialis. Baca saja Biografi beliau secara lengkap terutama kesaksian dari beberapa orang terdekat beliau. Banyak fakta-fakta yang sengaja ditutupi dari kenyataan bahwa pak Dirman adalah seorang sosialis walaupun beliau lahir dari rahim ormas Islam Muhammadiyah. Memang benar beraliran sosialis tidak sama dengan komunis. Tapi jangan coba-coba anda secara terbuka aktif di organisasi sosialis jika tidak siap mental. Bisa-bisa anda dituduh sebagai antek komunis yang mencoba bangkit di negeri ini. Tidak perlu menyiapkan argumen-argumen ilmiah untuk melindungi diri karena semua itu sia-sia saja, orang sosialis tetap dianggap sebagai komunis. Kasihan...

Tantang saja mereka berani tidak menyebut P.B Sudirman sebagai seorang Komunis?


Thursday, February 28, 2008

TAUKHAH ADNA BAWHA ....


Menuurt sbeauh penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tiadk meajndi malsaah bgaiamnaa uratun hruuf-hruuf di daalm seubah ktaa. Ynag pailng pnetnig adlaah leatk hruuf peratma dan terkahir itu beanr. Sisnaya daapt breatnakan smaa seakli dan kmau maish dpaat mebmaacnya tapna maaslah. Hal ini kaerna oatk maunisa tiadk mebmaca steiap huurf maisng-msaing, teatpi ktaa keesluurhan. Pecraya ngagk?





Monday, February 18, 2008

MENGAPA ANDA MENYEBUTNYA ODOL?


Sebagian orang mungkin sudah tahu bahwa ODOL sesungguhnya tidak bersinonim dengan pasta gigi. Odol sebenarnya adalah merek sebuah pasta gigi jaman dulu yang namanya sangat populer hingga menjadi nama generik dari pasta gigi. Sama seperti kita menyebut air mineral sebagai AQUA atau popok bayi sekali pakai dengan sebutan PAMPERS.

Pasta gigi merek odol ini bukan hanya menjadi nama generik saat produknya masih beredar tapi hingga saat orang-orang masih saja menyebut pasta gigi sebagai odol walaupun kenyataannya itu adalah sebuah merek. Kalau gak salah beredar di Indonesia tahun 1920-an. Aslinya berasal dari Jerman dan sampai sekarang merek Odol masih beredar disana.

Tidak mudah menjadikan sebuah merek menjadi luar biasa populer seperti Odol, Aqua, Pampers, atau Sanyo. Yang banyak menjadi pertanyaan adalah, mengapa dengan popularitas yang luar biasa hebat itu PT. Unilever Indonesia–produsen odol-justru menggantinya dengan Pepsodent?

Dari sudut pandang orang awam, mungkin keputusan menarik peredaran odol adalah sebuah tindakan paling ceroboh dan mencari mati. Tapi dari sudut pandang para pelaku pasar, tindakan itu mungkin merupakan tindakan yang sangat tepat.

Merek yang sukses mondominasi pasar bisa saja mengalami kerugian manakala produk tersebut justru berubah menjadi semacam label umum atau generik. Bisa saja orang mengatakan akan membeli odol, tapi sesungguhnya yang ada dalam pikirannya adalah merek lain dengan menyebutkannya Odol A, Odol B, atau Odol C.

Mungkin bagi perusahaan yang bersangkutan lebih penting menjadi pemimpin pasar daripada menjadi merek generik. Berdasarkan survey tahun 1999 saja, Pepsodent berhasil masuk 5 besar sebagai merek paling populer di Indonesia berdasarkan angka penjualannya. Jauh mengungguli pendahulunya, Odol.

Baru tahu kan kalau Odol ternyata sebuah merek pasta gigi?



Monday, February 4, 2008

SAMA-SAMA LUPA


Kira-kira sepuluh hari yang lalu, Anakku, Casilda menderita panas sangat tinggi.Takut terjadi apa-apa, kuperiksakan dia ke dokter sekalian cek darah. Ternyata hasilnya positif kena Typhus dan gejala Demam Berdarah. Gak ada pilihan lain selain nginep di Rumah Sakit. Untungnya, sang ibu kerja disana. Lumayan dapat sedikit potongan biaya berobat hehehe...

Butuh waktu lima hari agar kondisinya pulih. Untungnya ibu mertua mau cuti beberapa hari guna menunggui si cucu yang sedang sakit. Kejadian deh, The special one dan sang mertua bergantian nunggui si kecil yang sering bandel minta infusnya dicopot. Istri juga ikut-ikutan cuti pada 2 hari pertama mondok di Rumah sakit.

Setelah lima hari merasakan repot ngurus anak di RS, akhirnya kami diijinkan pulang dengan syarat, harus mau bawa obat. Gak masalah, pikirku. Satu-satunya hal yang paling ditakuti putriku adalah BADUT. Sama obat dia malah doyan banget. (Aneh ya anak jaman sekarang?)

Kemarin, obat itu sudah habis di embat dan harus cek kesehatan lagi di tempat praktek sang dokter. Di tempat praktek semua hal gak ada yang aneh. Dari mulai markir, ngantri, hingga diperiksa, semuanya biasa saja gak ada yang aneh. Saat di tempat parkir hendak pulang perasaanku kok gak enak yah...kayak ada yang aneh gitu. Sempet mrinding juga sih, jangan-jangan ada hantunya nih tempat praktek.


Aku cek sekali lagi. tas udah aku bawa. kunci kendaraan gak ketinggalan. Selendang dan selimut juga masih di bawa istriku. Oleh-oleh untuk ortu juga masih ada. Apa ya yang ketinggalan..? Lalu istri menyeletuk, “Mas..tadi udah bayar belom?” Waduh !! Mati aku !! masak belum bayar sih..malu-maluin aja!

Dengan tergopoh-gopoh istriku masuk lagi ke ruang pak dokter. Apa kata pak dokter? “Oh iya to...saya juga lupa, mbak”


Friday, February 1, 2008

LIGA INDONESIA : Liga payah !!

PSSI memang tidak punya wibawa sama sekali. hukuman 3 tahun tidak boleh memasuki seluruh stadion di Indonesia yang dijatuhkan terhadap Aremania tidak digubris sama sekali oleh Aremania, Kualitas kompetisi LIGA INDONESIA kembali dipertanyakan setelah diketahui ada dua tim yang seharusnya masuk empat besar justru tidak berhasil lolos. Bukan disebabkan karena kalah poin tapi justru disebabkan ketidak tegasan Komisi disiplin PSSI-lah yang menyebabkan kedua tim ini tidak lolos.Gimana to ini..?

PSMS Medan yang seharusnya tidak lolos justru melenggang ke senayan. Seharusnya Persiwa Wamena yang lebih berhak lolos setelah melihat kenyataan bahwa pada laga PERSIWA versus AREMA yang berkesudahan dengan skor(2-2),diketahui AREMA memainkan Alexander Pulalo yang terkena sanksi tidak boleh tampil pada pertandingan tersebut. Padahal Alex mendapat hukuman skorsing 2 kali pertandingan.

Hal ini memicu kubu PERSIWA mengajukan protes keras kepada Komisi Disiplin PSSI

Jika komisi disiplin konsisten dengan aturan yang mereka buat sendiri, maka seharusnya PERSIWA dinyatakan menang 3-0 atas AREMA dan berhak lolos ke semifinal karena selisih golnya lebih baik dari PSMS walau sama-sama memiliki poin 6.

Tim Macan Kemayoran, PERSIJA juga melakukan kecurangan serupa dengan memainkan Eugeny Khmaruk saat menang melawan Deltras (1-0) pada laga tanggal 19 Januari. Khmaruk saat laga tersebut seharusnya tidak boleh main karena mendapat sanksi 1 partai. Dengan aturan yang sama, PERSIJA harus dinyatakan kalah 0-3 dari Deltras.

Di hari yang sama, PERSIK juga melakukan pelanggaran serupa dengan memainkan Christian Gonzales saat melawan Persipura. Artinya Persipura harus dimenangkan dengan skor 3-0. Walau demikian, Persik masih berhak lolos ke semifinal menyingkirkan PERSIJA Jakarta.

Jadi komposisi tim-tim semifinalis seharusnya adalah : Persipura, Sriwijaya FC, Persik, dan Persiwa.

Entah apa yang ada di otak komisi disiplin PSSI. Mereka membuat aturan, tapi mereka sendiri yang melanggarnya. Kalau kompetisi saja tidak tertata dengan baik, bagaimana mau berprestasi?

Bener-bener lelah hati nonton sepak bola Indonesia.Payah !!

Wednesday, January 16, 2008

ANTARA SOEHARTO, ABU BAKAR BAASYIR, DAN SUNGAI BENGAWAN SOLO

Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa beberapa minggu terakhir ini adalah minggu-minggu milik Solo. Kota Solo dan sekitarnya menjadi lakon utama sebuah peristiwa (mungkin juga dagelan) yang mungkin mencerminkan watak kita sehari-hari. Lalu apa hubungannya antara Soeharto, Abu Bakar Baasyir dan Bengawan solo?

Mari kita simak bareng-bareng


Soeharto memang sakit di Jakarta. Tapi, suasana di Solo tidak kalah hebohnya. Soeharto memang punya keluarga disini khususnya Almarhumah Ibu Tien Soeharto. Mantan presiden RI ke-2 itu, diakui atau tidak masih memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat. Kondisi kritis yang dia alami saat ini sanggup menyedot para wartawan untuk memberitakan perkembangan kesehatannya secara eksklusif baik media cetak maupun media elektronik. Bahkan sebagian masyarakat dengan caranya masing-masing yang terkadang unik turut mendoakan kesembuhan mantan penguasa orde baru itu. Dalem Kalitan Solo yang biasanya sepi tiba-tiba ramai dikunjungi. Hotel-hotel di Solo belakangan mengalami peningkatan tingkat hunian yang sangat signifikan, bahkan pemerintah setempat pun ikut-ikutan repot mempersiapkan diri jika dalam waktu dekat ternyata nyawa pak harto tidak lagi dapat diselamatkan.

Seperti biasa, seiring masuknya Soeharto ke rumah sakit, pembahasan tentang status hukum mantan presiden RI kedua ini kembali bergulir. Namun ujung-ujungnya juga sama, saat sudah keluar dari rumah sakit pembahasan tentang status hukum itu kembali meredup. Pemerintah dihadapkan pada situasi dilematis berkaitan dengan hal tersebut antara menjunjung rasa keadilan atau menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Dan ternyata pemerintah memilih opsi kedua yaitu alasan kemanusiaan yang berbuah penghentian penyidikan terhadap Soeharto.

Sebagai mantan presiden, Soeharto memang layak mendapat perlakuan istimewa karena jasa-jasanya pada negeri ini. Pelayanan medis kelas wahid dan gratis adalah salah satu bentuk penghargaan pemerintah pada jasa-jasanya. Namun hal itu bukan berarti harus menginjak-injak rasa keadilan yang selama ini harganya sangat mahal untuk kita peroleh. Bagaimanapun juga, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan hukum.

Seorang kawan pernah berkata, Soeharto itu jangan dinilai dari keburukannya saja, tapi nilailah juga dari jasanya pada negeri ini.

Apa tidak terbalik tuh?
Selama 32 tahun kita menyaksikan Soeharto sebagai sosok yang diagungkan bahkan dikultuskan sebagai satu-satunya bapak pembangunan negeri ini. Dan baru 10 tahun dituntut untuk diadili saja tidak pernah ada langkah nyata ke arah sana. Kalau diadili saja tidak pernah, bagaimana bisa dihukum atas kesalahannya?

Coba kita bandingkan dengan perlakuan terhadap sosok Abu Bakar Baasyir (yang kebetulan orang solo juga). Beberapa waktu lalu saat dituduh terlibat dalam aksi terror, Abu Bakar sedang dirawat di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Abu Bakar diseret paksa untuk diperiksa dan tidak ada seorang pun yang berkoar-koar tentang rasa kemanusiaan. Walapun akhirnya tidak terbukti bersalah, jangankan permintaan maaf, beberapa tuduhan yang tak kalah konyol telah disiapkan untuk menjebloskan orang renta ini ke dalam penjara. Seperti biasa tanpa perlu bukti konkrit.

Masih peristiwa aktual di Solo

Di sisi lain, korban-korban luapan sungai Bengawan Solo yang sempat menghiasi layar kaca kita setiap hari semakin tidak jelas nasibnya pasca bencana meluluh lantakkan rumah dan sawah-sawah mereka. Recovery pasca banjir bukanlah berita menarik yang mampu menyedot pemasang iklan di televisi. Para wartawan lebih suka nongkrong di RS Pertamina Jakarta guna memantau perkembangan kondisi kesehatan Soeharto sambil menikmati es teh dan nasi bungkus gratis pemberian seseorang yang diduga masih kerabat Soeharto. Memang jauh lebih enak disana daripada harus meliput penderitaan para korban bencana.

Tidak enak memang mengetahui berapa banyak anak-anak yang menderita diare pasca banjir, Tidak menyenangkan juga mendengar mereka kekurangan obat-obatan dan makanan, Lebih tidak tertarik lagi mengetahui berapa lagi nyawa yang melayang akibat terlambat ditangani medis.

Kali ini Solo dan sekitarnya menjadi pemeran utama sebuah episode kehidupan negeri kita. Di saat kita menuntut perlakuan manusiawi pada seseorang, di sisi lain kita tidak berperikemanusiaan pada yang lain.