Me and daughter

Akrab bersama Silda

2nd Anniversary STUCK

Let's go to #BribikComedy

Friday, August 13, 2010

PUBLISH BLOG

Bagaimana cara menambahkan
alamat blog kita ke Google?
Bagaimana agar postingan blog kita
bisa dikenali Google lebih cepat?

Saya akan share sedikit yang mudah dilakukan bagi para pemula. khususnya
bagi saya sendiri yg sering lupa hehehe...


1. Google
Add Url (
http://www.google.com/addurl/)

Di situ, kita bisa menambahkan alamat web/blog kita, disertai dengan komentar
singkat.

2. Sitemap
- Google Webmaster Tools

(
http://www.google.com/webmasters/sitemaps)

Login menggunakan akun Google (gmail). Lalu ikuti saja langkah2nya.

Pertama, masukkan alamat blog. Lalu klik
Verify site
, choose verification code pilih
Add a meta tag.

Copy kode meta tag yang muncul, lalu paste (sisipkan)
ke dalam template blog kita. Sisipkan di bawah baris kode <head>, atau sisipkan
sebelum kode <body>.

Jika sudah disimpan dan publish perubahan templatenya, di halaman google sitemap
tadi klik tombol verify.

3.
Tambahkan keyword di template
.


Sisipkan kode2 seperti di bawah ini di bawah kode <head>

<meta name="keywords"
content="keyword1, keyword2, keyword3">

<meta name="description" content="deksripsi blog kamu">

Ganti saja keyword² tsb dengan kata kunci yang
menggambarkan blog kita. Misal blog ini: tutorial, pemula, blogger.




Tips-tips tersebut tentu tidak banyak dampaknya kalau
kita tidak rajin meng-update, apalagi blog kita isinya tidak informatif.
Pasti kalah dengan blog lain yang isinya lebih

informatif
.




INGAT!
Tidak ada yang instan. Dengan melakukan hal2 di atas hanya cara kecil
mempermudah pengindexan, BUKAN
untuk menjamin situs kamu pasti berada di halaman pertama pencarian search
engine. Menjadi yang teratas di Google dipengaruhi banyak hal.


Ada baiknya pula kita baca-baca tentang


Pagerank
dan

Search Engine Optimization (SEO)
.

 

Friday, June 26, 2009

PROCESSOR


Ada sebuah built – in processor yang luar biasa mahadaya yang dimiliki setiap orang. Processor ini mampu mengolah berbagai informasi dalam ditungan milisecond atau sepersekian detik. Processor ini mampu mengolah tampilan data, mengenali voice command, dan memberikan output dalam bentuk verbal, 2D, atau 3D sesuai dengan command yang diberikan. Bukan hanya serbaguna, processor ini juga self learning, dan selama power supply nya tidak terputus, ia bisa terus diinstalkan program baru dengan kapasitas tidak terbatas. Rata – rata daya guna optimum processor ini juga cukup lama, mencapai 60 - 90 tahun, bahkan jika dirawat dengan baik, bisa juga bertahan lebih lama. Tidak percaya?

Perkenalkan processor terhebat yang didesain khusus oleh sang pencipta yang disebut: OTAK. Otak yang merupakan pemberian cuma – cuma dari sang pencipta ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa yang bila kita manfaatkan dengan maksimal, akan memberikan output karya – karya besar yang luar biasa. Lihat saja Piramida Mesir karya para Firaun, Lukisan Monalisa – nya Leonardo da Vinci, Novel Harry Potter karya J.K. Rowling, Kerajaan Real Estate Donald Trump, sampai iPod dan iPhone buah pikiran CEO Apple, Steve Jobs.

Jika diteliti lebih dalam, apa perbedaan antara otak anda dengan otak para tokoh diatas? Jawabannya: tidak ada. Sel – sel otak yang bergerak di kepala kita ini tidak berbeda sama sekali dengan mereka yang menciptakan sejarah dunia. Hasil pemikiran dan imajinasi mereka tidak hanya mengukirkan nama besar mereka bagi dunia, tapi juga mendatangkan kekayaan dan kelimpahan yang tidak sedikit.

Kita pada dasarnya memiliki potensi yang sama besarnya dengan mereka yang sering disebut ’para genius’ atau ’konglomerat kelas dunia’ tersebut. Hanya saja terkadang kita lalai untuk terus menggali dan mempertajam potensi kita. Kita menjadi lelah dan malas untuk ’mengistall’ program – program baru yang akan meng up – grade processor kita lewat belajar. Kita malas mempelajari fungsi – fungsi baru yang muncul karena terbiasa dengan software versi lama, hingga cara berpikir kita tertinggal dari mereka. Padahal, alangkah dahsyatnya karya yang bisa anda hasilkan seandainya anda mau terus mengembangkan kemampuan otak anda, karena orang lain telah membuktikan kemampuan otak ini berulang – ulang kali dengan kesuksesan mereka.

Apakah anda tidak mampu meng up – grade processor otak anda, atau anda tidak mau? Cobalah untuk terus mengasah otak, dan rasakan manfaatnya langsung dalam hidup anda. Segera lakukan, mau? Salam Otak.

Dari: Catatan Tanadi Santoso




Saturday, March 28, 2009

JANGAN TERLALU DALAM


Telah berulang kali Nasrudin Hoja - seorang ulama nyentrik di masanya -mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.

Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"

Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"

"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nasrudin.

--------------
Semoga Anda mendapat pelajaran penting dari kisah tersebut, kawan.


Thursday, February 5, 2009

"NDESO"


oleh : Ika S. Creech *)


Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin
lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia
atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka
ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk
turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga
sama terkagum-kagum sama seperti dia..



Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya
untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar
bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau
bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si
Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.
Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik
kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik
mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni
dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru
yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya
tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu,
kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia
seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang
lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya
raya.

Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia
juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata
konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan
juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah
serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai
masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa
yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di
Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang
diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan
mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa
dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
banyak yang lesehan.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang
mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah,
minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan
medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial
yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek
mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di
Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi
berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso
(alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan
krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang
menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah
Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah
yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100
juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan
kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman
patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di
cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc
Donald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
- 63 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara
tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol
ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan
wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu
jin tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka
harus bisa tampil keren.

Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.


*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris,Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.



Thursday, December 11, 2008

MELURUSKAN FITNA - BAGIAN 2


Ayat kedua yang merupakan fitnah film Fitna adalah firman-Nya:
Photobucket

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus,Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan siksa. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS . A N-NISAA’ [ 4]: 56

Ayat di atas diperdengarkan oleh film Fitna hingga firman-Nya: (Photobucket) li yadzuuqul’adzaab /supaya mereka merasakan siksa sambil menayangkan juga terjemahannya yang yang menyatakan:

”Those who have disbelieved our signs, we shall roost them in fire. Whenever their skins are cooked to a turn, we shall substitute new skin for them. That they may feed the punishment. Verify Allah in a sublime and wise.”

Itu semua disertai dengan penayangan seorang Muslim yang berpidato berapi-api sambil menghunus pedang, untuk mengajak berjihad disertai dengan teriakan Allahu Akbar. Selanjutnya ditayangkan suatu wawancara dengan seorang bocah perempuan Muslimah” yang ditanyai tentang orang-orang Yahudi dan dijawab olehnya bahwa mereka itu adalah monyet-monyet dan babi-babi. Setelah ditanyai siapa yang menyatakan demikian, sang bocah menjawab: “Allah.”

Tidak jelas mengapa QS. an-Nisaa’ [4]: 56, yang mereka pilih untuk memfitnah. Boleh jadi hal tersebut mereka maksudkan untuk membuktikan bahwa Allah yang disembah kaum Muslim memerintahkan untuk menyayat kulit orang-orang kafir dan membakar mereka hidup-hidup, lalu membiarkannya hingga sembuh dan mengulangi lagi pembakarannya! Atau bisa juga tujuan mereka adalah menggambarkan betapa kejam Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim dalam penyiksaan-Nya.

Benarkah demikian? Jelas tidak! Bukan saja karena ayat di atas tidak berbicara tentang siksa duniawi, tetapi berbicara tentang sesuatu yang dapat terjadi kelak di dalam neraka yakni di akhirat. Bukan hanya karena itu, tetapi juga karena dengan jelas ada larangan Nabi Muhammad saw. untuk menyiksa siapa pun dengan api, sesuai sabdanya:

Photobucket

“Tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhannya api (yakni Allah)” (HR. Abu Daud melalui Hamah al-Aslami).

Sekali lagi, ayat di atas berbicara tentang siksaan yang diancamkan terhadap orang-orang kafir kelak di Hari Kemudian. Itu pun oleh sementara ulama tidak dipahami dalam arti hakiki. Firman-Nya: “Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain,” mereka pahami dalam arti setiap orang kafir yang disiksa itu menduga bahwa siksa atas mereka telah berakhir atau akan berakhir dengan hancurnya kulit dan jasmani mereka, Allah menganugerahkan lagi kepada mereka hidup baru yang menjadikan siksa atas mereka berlanjut sampai waktu yang dikehendaki-Nya. Sebagian ulama lain memahami ayat di atas dalam arti hakiki sambil menyatakan bahwa ayat di atas merupakan ancaman. Pemahaman mereka dikuatkan oleh temuan ilmuwan yang membuktikan bahwa saraf yang tersebar pada lapisan kulit merupakan yang paling sensitif terhadap pengaruh panas dan dingin. Atau dengan kata lain, kulit adalah alat perasa yang paling peka.

Jika demikian, apakah ayat di atas mengantar siapa pun untuk berkata, apalagi membuktikan, bahwa Allah swt., Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim, adalah Tuhan yang kejam? Jelas juga tidak boleh demikian! Karena ayat ini dan yang semacam ini merupakan ancaman yang belum tentu terjadi sebagaimana yang dilukiskan itu, karena Allah, Tuhan Yang dipercayai oleh kaum Muslim adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, yang Rahmat-Nya menyentuh segala sesuatu sebagaimana berkali-kali dinyatakan oleh al- Qur’an dan Sunnah.

Ancaman adalah salah satu bentuk pendidikan yang digunakan guna mencegah mereka yang bermaksud buruk melangkah menuju keburukan. Agama-agama menggunakan hal tersebut. Di sisi lain, perlu diketahui bahwa yang mengancam dengan siksaan berupa api, bukan hanya Islam. Nabi Isa as. pun yang dikenal luas merupakan sosok yang penuh kasih sayang menggunakannya sebagai ancaman. Bacalah misalnya Injil Matta 13 49, yang menyatakan:

“Demikian juga pada akhir zaman, Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

Apa yang digambarkan oleh agama-agama—baik melalui kitab suci, lebih-lebih melalui uraian pemuka-pemukanya— kesemuanya menggambarkan siksa dengan gambaran yang sangat menakutkan. Bacalah uraian Will Durant, sejarahwan Amerika (w.1981 M) dalam bukunya The Story of Civilizations, di mana dia banyak mengangkat kepercayaan orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang siksa neraka, dan bagaimana ancaman neraka dapat menggugah orang untuk melaksanakan kebaikan. Baca juga The Divine Comedy karya Dante, Penyair Italia (1265-1321 M), niscaya bulu roma siapa pun akan berdiri saat membaca aneka siksa neraka yang dilukiskannya.

Agama menggarisbawahi bahwa kehidupan ini adalah tempat menanam benih, sedang akhirat adalah tempat menuainya. Jangan berkata bahwa yang dilakukan oleh yang berdosa hanya sedikit atau sesaat, sehingga mengapa harus demikian besar dan lama siksa yang dialaminya? Jangan berkata demikian, karena itu serupa dengan pertanyaan: Mengapa sekadar melempar sebiji benih di tanah, hasilnya adalah pohon yang rimbun dengan ribuan buah? Demikian juga halnya balasan amal buruk dan siksa di neraka.

Tetapi, mengapa harus memfokuskan pandangan ke siksa, bukankah agama juga menggambarkan surga dengan kenikmatannya yang luar biasa?

Agama enggan menjadikan manusia larut dalam harapan, tetapi dalam saat yang sama, agama juga tidak menginginkan manusia berputus asa, karena itu digabungnya kedua hal tersebut antara lain melalui harapan surgawi dan ancaman neraka. Sungguh Allah Maha Bijaksana.

Siapa yang membaca ayat-ayat siksa dalam al-Qur’an dan membaca juga ayat-ayat kenikmatan surgawi, dia akan menemukan bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, surga-Nya jauh lebih luas daripada neraka-Nya, dan bahwa aneka kebajikan yang melimpah dari-Nya, mampu untuk memenuhi alam raya sehingga pada akhirnya—tidak mustahil suatu ketika—neraka tidak lagi memiliki tempat, atau bahwa ia adalah tempat penyiksaan tetapi ia (dikatakan) siksa jika dibandingkan dengan surga yang sedemikian indah dan menyenangkan. Seorang yang membandingkan perjalanan melelahkan dengan bus tanpa AC dengan perjalanan dengan pesawat udara di First Class pula akan berkata bahwa bepergian dengan bus adalah siksaan. Namun, bila perjalanan dengan bus itu dibandingkan dengan berjalan kaki di tengah teriknya panas, maka perjalanan dengan bus akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Atau Anda dapat berkata bahwa rahmat Allah yang demikian besar membatalkan siksa yang beraneka ragam itu sebagaimana polisi menjinakkan bom yang dipasang untuk meledak.

Al-Qur’an melukiskan bahwa melakukan satu keburukan balasannya hanya satu, sedang melakukan satu kebaikan menghasilkan sepuluh ganjaran (baca QS. al-An‘am [6]: 160). Seandainya masing-masing dari kebaikan dan keburukan itu memperoleh satu balasan/ ganjaran, maka itu merupakan keadilan, tapi curahan rahmat-Nya sangat melimpah sehingga seseorang yang melakukan sepuluh keburukan dan hanya satu kebaikan, maka ia tetap memiliki harapan untuk selamat, bahkan menghuni surga. “Sungguh celaka siapa yang memiliki satu, tapi mengalahkan yang sepuluh”, demikian ungkap sementara sahabat Nabi saw.

Begitu gambaran atau katakanlah harapan yang dilahirkan oleh keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih, rahmat kasih sayang-Nya mengalahkan amarah-Nya. Sebaliknya surga pun demikian, kenikmatan yang digambarkan al-Qur’an tidaklah sepenuhnya sama dengan apa yang akan dialami di sana. Di sana terdapat banyak hal yang belum pernah terlihat oleh mata, atau terdengar oleh telinga, serta terlintas dalam benak. Tetapi untuk menggambarkannya, bahasa manusia bahkan benaknya, tidak mampu melukiskan dan mencernanya, sehingga yang digambarkan hanyalah kenikmatan tertinggi yang mampu dilukiskan oleh kata-kata dan yang terjangkau oleh benak manusia.

Satu lagi yang perlu dikomentari dari bagian film ini, yaitu tayangan bocah yang ditanya tentang orang Yahudi. Terlepas apakah yang ditanya benar-benar seorang anak Muslimah atau bukan, tetapi biarlah kita berandai bahwa memang demikian itu halnya. Namun, perlu diketahui bahwa selama ini penduduk Palestina merasa sangat tertindas oleh Negara Yahudi, Israel. Wilayah mereka direbut, pemuda-pemuda mereka ditahan dan dibunuh, mereka hidup di tenda-tenda pengungsian sejak puluhan tahun yang lalu. Ini menjadikan para orang tua mereka mengajarkan kebencian terhadap orang-orang Yahudi, dan tidak mustahil mereka menggunakan ayat-ayat al-Qur’an yang mengecam sebagian orang Yahudi sebagai pembenaran atas kebencian itu. Dalam konteks penamaan mereka sebagai kera dan babi, harus diakui bahwa memang ada ayat al-Qur’an yang menyatakan:

Photobucket

“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina” (QS. al-Baqarah [2]: 65).
Photobucket

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepada kamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus” (QS. al-Maidah [5]: 60).

Beberapa hal perlu dicatat, dalam memahami ayat-ayat di atas:

Pertama: Firman-Nya “Dijadikan kera-kera dan babi-babi” tidak harus dipahami dalam arti mengubah fisik mereka sehingga berbentuk kera dan babi, tapi dapat juga dipahami dalam arti kiasan. Yakni sifat-sifat mereka adalah sifat kera dan babi. Kera adalah satu-satunya binatang yang selalu terlihat auratnya, karena auratnya memiliki warna yang menonjol berbeda dengan seluruh warna kulitnya. Di sisi lain, kera harus dicambuk untuk mengikuti perintah. Demikianlah sementara orang-orang Yahudi yang dikecam oleh al-Qur’an. Mereka tidak tunduk dan taat kecuali setelah dijatuhi sanksi atau diperingatkan dengan ancaman. Selanjutnya, babi adalah binatang yang tidak memiliki sedikit pun rasa cemburu, sehingga walau betinanya ditunggangi oleh babi yang lain ia tak acuh. Hal ini juga merupakan sifat sebagian orang Yahudi. Rasa cemburu hampir tidak menyentuh mereka.

Kedua: Sifat tersebut tidak menyentuh semua orang Yahudi, tetapi hanya yang sebagian dari mereka, seperti bunyi ayat QS. al-Maidah, yakni yang durhaka menyangkut ketentuan tentang hari Sabtu (1) , seperti bunyi ayat QS. al-Baqarah di atas. Memang al-Qur’an menyatakan mereka tidak sama, yakni ada yang baik dan ada juga yang buruk (baca antara lain: QS. Ali Imran [3]: 75 dan 103).

Ketiga: Sebenarnya apa yang dijelaskan oleh al-Qur’an tentang pengubahan fisik atau sifat itu, diketahui sepenuhnya oleh pemuka- pemuka agama orang-orang Yahudi, sebagaimana diisyaratkan oleh penggalan awal firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar” (QS. al- Baqarah [2]: 65).

Sekali lagi, jika bukan karena aneka penderitaan besar yang dialami oleh penduduk Palestina akibat perbuatan orang-orang Yahudi di Israel, maka dapat diduga keras bahwa ucapan bocah perempuan itu tidak akan terdengar. Demikian, wa Allah a‘lam.


NB:
1)Hari Sabtu adalah hari yang ditetapkan Allah bagi orang-orang Yahudi – sesuai usul mereka – sebagai hari ibadah yang bebas dari aktivitas duniawi. Mereka dilarang mengail ikan pada hari itu. Tetapi, sebagian mereka melanggar dengan cara yang licik. Mereka tidak mengail, tetapi membendung ikan dengan menggali kolam sehingga air bersama ikan masuk ke kolam itu. Peristiwa ini – menurut sementara mufasir – terjadi di salah satu desa kota Aylah yang kini dikenal dengan Teluk Aqabah. Kemudian setelah hari Sabtu berlalu, mereka mengailnya. Allah murka terhadap mereka, maka Allah berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina terkutuk”.

(Bersambung ke Ayat Ketiga)
Diambil dari : “Ayat-Ayat Fitna” oleh M. Quraish Shihab.


Saturday, December 6, 2008

MELURUSKAN FITNA - BAGIAN 1


Buku “Ayat-Ayat Fitna” bukanlah sanggahan terhadap film “Fitna” karya Geert Wilders Ketua Fraksi Parta Kebebasan (PVV) dari Belanda. Film itu terlalu buruk untuk memperoleh tanggapan. Sangat jauh dari objektivitas dan persyaratan ilmiah juga tidak memiliki unsur seni atau ajakan kepada hubungan harmonis, kata M. Quraish Shihab sang penulis buku.
Buku ini sekedar menunjukkan kepada umat Islam dan siapa pun yang hendak mengenal Islam bahwa sesungguhnya ajaran Islam sangat bertolak belakang dengan yang disuguhkan. Berikut adalah ayat pertama dari lima ayat yang dikutip oleh Geert Wilders.

AYAT PERTAMA
QS. AL-ANFAL [8]: 60

Photobucket

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, dan musuh kamu, serta orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). QS.AL- ANFAL [8] : 60


Ayat pertama yang diputarbalikkan oleh film Fitna adalah QS. al-Anfal [8]: 60, yang dijadikan bukti bahwa ajaran Islam memerintahkan kaum Muslim melakukan teror. Ayat tersebut dibacakan dalam film itu sampai dengan (Photobucket
) wa‘aduwakum /dan musuh kamu, dengan terjemahannya yang menyatakan: ”Prepare for them whatever force and cavalry ye are able of gathering to strike terror into the hearts of the enemies of Allah and your enemies.”

Itu disusul dengan penayangan rekaman serangan pesawat yang menghancurkan
menara kembar World Trade Center New York, 11 September 2001, serta rekaman korban pengeboman di Madrid dan London, guna dijadikan bukti bahwa al-Qur’an memang memerintahkan untuk melakukan teror.

Pertama yang perlu digarisbawahi adalah penerjemahan kata turhibun dengan teror. Pada hakikatnya kata turhibun terambil dari kata (Photobucket
) rahiba yang berarti takut/gentar. Ini bukan berarti melakukan teror. Memang dalam perkembangan bahasa Arab dewasa ini teror dan teroris ditunjuk juga dengan kata yang seakar dengan kata tersebut, yakni irhab/ terorisme atau teroris_. Tetapi perlu dicatat bahwa pengertian semantiknya serta penggunaan al-Qur’an bukan seperti yang dimaksud oleh kata itu dewasa ini. Perlu juga digaris bawahi bahwa yang digentarkan bukan masyarakat umum, bukan juga orang-orang yang tidak bersalah, bahkan bukan semua yang bersalah, tetapi yang digentarkan adalah musuh agama Allah dan musuh masyarakat.

Ayat di atas tidak dapat dipahami secara benar jika dipisahkan dari uraian ayat-ayat sebelumnya yang dimulai dari ayat 55 hingga ayat 59. Di sana Allah berfirman:
Photobucket
Photobucket

Sesungguhnya seburuk-buruk binatang di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman_ [55], (yaitu) orang- orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, kemudian mereka mengkhianati perjanjian mereka setiap kali, dan mereka tidak bertakwa_ [56]. Maka setiap kali engkau menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah siapa yang di belakang mereka, supaya mereka mengambil pelajaran_ [57]. Dan jika engkau benar-benar khawatir pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah (sampaikan pembatalan perjanjian itu) kepada mereka dengan seimbang. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat_ [58]. Dan janganlah orang-orang yang kafir mengira, dapat lolos. Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah)_ [59].

Setelah ayat-ayat di atas, barulah datang ayat 60 yang diputarbalikkan itu.

Seperti terbaca di atas, ayat 55 berbicara tentang seburuk-buruk binatang, yakni manusia-manusia kafir yang tidak beriman yang dijelaskan oleh ayat 56 bahwa yang dimaksud adalah mereka yang setiap kali mengikat perjanjian, setiap kali itu juga mereka mengingkarinya. Mereka itulah yang oleh ayat 57 dinyatakan bahwa bila mereka ditemui

dalam peperangan—sekali lagi dalam peperangan—agar diceraiberaikan bersama siapa yang di belakang mereka supaya mereka mengambil pelajaran. Anda perhatikan mereka

tidak dibunuh, tetapi diceraiberaikan dan tujuannya adalah agar mereka mengambil pelajaran.

Selanjutnya ayat 58 mengingatkan agar tidak menyerang pihak yang berkhianat dalam perjanjiannya kecuali setelah membatalkan perjanjian itu dan menyampaikan pembatalannya kepada mereka dengan penyampaian yang tegas. Menyerang tanpa menyampaikan pembatalan perjanjian adalah salah satu bentuk pengkhianatan yang terlarang, walau terhadap musuh sekalipun.

Ayat 59 masih berbicara tentang mereka dan yang serupa dengan mereka. Di sana mereka diperingatkan agar tidak mengira bahwa mereka dapat lolos dari kepungan dan siksa Allah swt. Nah, setelah uraian di atas, datanglah ayat 60 yang diputarbalikkan maknanya itu oleh film Fitna itu bertujuan menampik kesan yang dapat muncul akibat pernyataan ayat 59 yang menegaskan bahwa musuh-musuh Allah itu tidak akan dapat lolos dari siksa.

Nah, karena ketika itu boleh jadi timbul kesan bahwa kaum Muslim boleh berpangku tangan menghadapi musuh, maka ayat 60 menghapus kesan tersebut melalui penegasan-Nya yang menyatakan bahwa: Dan di samping memorak-morandakan yang telah berkhianat serta membatalkan perjanjian yang dijalin dengan siapa yang dikhawatirkan akan berkhianat, kamu juga— wahai kaum Muslim—harus memerhatikan hukum sebab dan akibat, karena itu siapkanlah untuk menghadapi mereka yakni musuh- musuh kamu apa yang kamu mampu menyiapkannya dari kekuatan apa saja dan dari kuda-kuda yang ditambat (pasukan kavaleri) untuk persiapan menghadapi peperangan.

Lebih jauh ayat 60 tersebut menjawab lagi pertanyaan yang dapat muncul, seperti

Mengapa kami harus mempersiapkan kekuatan padahal Engkau Ya Allah yang menganugerahkan kemenangan?_ Pertanyaan itu dijawab bahwa tujuan persiapan adalah agar kamu menggentarkan musuh Allah, musuh kamu dan menggentarkan pula dengan persiapan itu, atau dengan gentarnya musuh- musuh Allah dan musuh kamu itu orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui siapa mereka baik karena mereka munafik maupun suku dan bangsa yang bermaksud menindas kamu. Allah mengetahui mereka kapan dan di mana pun mereka berada.

Selanjutnya, karena persiapan untuk membela kebenaran dan nilai Ilahi memerlu- kan biaya, maka ayat ini memerintahkan untuk menafkahkan harta sambil mengingatkan bahwa apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah walau sekecil apa pun niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kamu dan kamu tidak akan dianiaya yakni dirugikan walau sedikit pun, bahkan Allah akan menambah sesuai kemurahan Allah dan niat serta upaya masing-masing.

Itulah pesan ayat 60, tetapi oleh Fitna” ayat tersebut diartikan sebagai perintah melakukan teror.

Firman-Nya: Untuk menggentarkan musuh-musuh_ menunjukkan bahwa kekuatan yang dipersiapkan itu bukan untuk menindas atau menjajah, tetapi untuk menghalangi pihak lain yang bermaksud melakukan agresi. Tujuan dari persiapan kekuatan sama dengan apa yang dinamai oleh pakar-pakar militer dewasa ini dengan deterrent effect. Ini karena yang bermaksud jahat, bila menyadari kekuatan yang akan dihadapinya, ia akan berpikir seribu kali sebelum melangkah.

Perlu ditambahkan bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa al-Qur’an menggunakan kata quwwah/kekuatan_ dalam berbagai bentuknya adalah dalam arti kekuatan untuk menghadapi pembangkang, tetapi bukan untuk menganiaya, tidak juga untuk memusnahkan, bahkan tidak menggunakannya tetapi sekadar memamerkan untuk menggentarkan musuh. Karena itu, penggunaan kekuatan sedapat mungkin dihindari, dan kalau pun digunakan, ia digunakan untuk menghadapi musuh Allah, musuh masyarakat. Musuh adalah yang berusaha untuk menimpakan mudharrat kepada yang dia musuhi. Adapun yang tidak berusaha untuk itu, maka ia tidak perlu digentarkan. Selanjutnya perlu dicatat bahwa penggunaan senjata untuk membela diri, wilayah, agama, dan negara sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan teror. Demikian, Wa Allah A’lam.

(Bersambung ke Ayat Kedua)

Diambil dari : “Ayat-Ayat Fitna” oleh M. Quraish Shihab.




Saturday, November 22, 2008

ANAK MULAI MEMBANTAH


Usia balita tak menghalangi anak-anak untuk membantah perintah orang tua. Pengalaman ini setidaknya sering kali saya alami. Sebagai pasangan muda yang belum berpengalaman ngurus anak, istri saya sering marah dan tidak sabaran melihat perilaku putri kami yang sering membantah perintah orang tua.
Susahnya mencari solusi di masa-masa awal membuat saya harus mengambil posisi agak bersebrangan dengan istri saat amarahnya meledak. Jangan sampai saya ikut-ikutan “mengeroyok” si kecil dengan amarah serupa. Demikian pula sebaliknya, saat emosi saya meledak, istri memilih untuk diam.

Sayangnya cara ini tidak selalu berjalan mulus. Kadangkala ada salah pengertian antara saya dan istri. Saat saya memarahi si kecil, istri saya yang sebenarnya mengambil posisi netral malah kena semprot juga. Akibatnya bisa ditebak, terjadi pertengkaran kecil antara kami berdua.

Saya sadar kami berdua tidak bisa begini terus dalam menangani anak. Suami istri idealnya harus saling mendukung dalam mendidik anak bukan satu aktif yang lainnya pasif. Akibat ke depan nanti bisa buruk. Anak akan mudah mencari perlindungan saat salah satu diantara kami menegurnya.

Setelah lama berpikir, akhirnya ada cara untuk menyiasati anak yang gemar membantah, saya gunakan kalimat-kalimat kecil yang mencegah anak menjawab dengan jawaban TIDAK.
Misalnya, untuk mengajak anak mandi, saya akan mengatakan , ‘Ayo, sekarang mandi. Mandi sama eyang apa sama abi?. Si kecil punya pilihan tapi pilihan itu tetap mengarah pada tujuan yang sama.

Ternyata, umumnya anak tidak suka melihat orang tua hanya menyuruh dan tidak bergerak sama sekali. Sebaiknya, jika memberikan perintah dengan kalimat yang halus disertai dengan gerakan orang tua mengikutinya.

Bukankah kita sendiri juga tidak suka diperintah oleh orang yang tidak melakukan apa-apa?



Blogger Secrets